lenterakeadilannews.com
Tri Pujianto, pria kelahiran Klaten, 3 September 1959, menjalani hidup dengan penuh perjuangan. Bersama istri tercinta, ia melewati berbagai perjalanan hidup dari bawah.
Berawal dari tinggal di rumah kontrakan, sedikit demi sedikit mereka berjuang hingga akhirnya mampu memiliki rumah sendiri di Pergiwati, Semarang.
Apa pun dilakukan Tri Pujianto demi menghidupi dan membahagiakan istri serta kelima anaknya. Bakat berdagang yang diwariskan dari leluhurnya membuatnya menjadi sosok yang pantang menyerah dan tak kenal lelah dalam mencari rezeki.
Berjualan telur asin pun pernah dilakoninya. Baginya, pekerjaan apa pun yang halal akan dijalani selama bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan membuat istri serta anak-anaknya tersenyum.
Perekonomian keluarga mulai perlahan membaik ketika pada tahun 1990-an, Tri Pujianto bersama istrinya mulai terjun ke pasar dan membantu merintis usaha jualan hasil bumi bersama adiknya, Joko Lekik.
Dari hari ke hari, dari keringat dan jerih payah yang tak sedikit, usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Kehidupan keluarga pun berangsur membaik.
Kini, di usia senjanya, Tri Pujianto dapat tersenyum melihat hasil dari perjuangan panjang yang telah ia dan istrinya jalani.
Beberapa putra-putrinya pun mengikuti jejak kedua orang tuanya untuk menjadi pedagang dan berjualan hasil bumi.
Ketekunan, kerja keras, dan semangat yang dahulu dicontohkan oleh kedua orang tua mereka, kini mulai dirasakan pula oleh anak-anaknya.
Bagi Tri Pujianto dan istrinya, ada satu pesan yang selalu mereka tanamkan kepada anak-anak:
“Jangan pernah berhenti berusaha dan berdoa.”
Berusaha dalam menjalani kehidupan, dan berdoa dalam setiap keadaan. Terutama, tak pernah lupa mendoakan anak-anak dan cucu-cucunya agar selalu diberi kesehatan, kelancaran, keberkahan, serta kebahagiaan dalam hidup.
Kini, di hari tuanya, Tri Pujianto hanya ingin mengucap syukur.
“Di hari tuaku, aku bersyukur masih dapat tersenyum bahagia. Terima kasih kepada Allah SWT karena hingga usia yang hampir 70 tahun, aku masih diberi kesehatan. Masih bisa berjuang bersama istri tercinta, masih bisa melihat anak, cucu, dan menantu hidup bahagia, serta melihat mereka mampu membahagiakan orang tuanya.
Semua itu adalah kebahagiaan yang sangat aku syukuri.
Terima kasih, ya Allah. Di hari tuaku, Engkau masih memberiku kesempatan untuk tersenyum bahagia.”
Perjalanan Tri Pujianto menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan mudah. Ada doa yang tak pernah putus, ada keringat yang jatuh tanpa diketahui banyak orang, ada perjuangan bersama pasangan, dan ada pengorbanan demi anak-anak tercinta.
Hari ini, senyum itu akhirnya hadir.
Bukan karena hidup tanpa perjuangan, tetapi karena perjuangan panjang itu telah berubah menjadi kebahagiaan.
Terima kasih, ya Allah. Atas usia, kesehatan, keluarga, rezeki, dan kesempatan untuk melihat orang-orang yang kami cintai bahagia.
Reporter: Oki
Editor: Bas







