Beranda / Nasional / Tidak Ada Kesuksesan Tanpa Perjuangan. Suksesku bukan untuk diriku sendiri Kisah Inspiratif Jaka Prasaja, S.H. — “Mbah Joko Lekik”

Tidak Ada Kesuksesan Tanpa Perjuangan. Suksesku bukan untuk diriku sendiri Kisah Inspiratif Jaka Prasaja, S.H. — “Mbah Joko Lekik”

 

lenterakeadilannews.com

Kesuksesan tidak pernah datang dengan sendirinya. Di balik setiap keberhasilan, selalu ada perjuangan, pengorbanan, doa, dan kerja keras yang tidak mengenal lelah.

Kisah hidup Jaka Prasaja, S.H., yang akrab dipanggil Mbah Joko Lekik, adalah salah satu kisah yang mengajarkan arti perjuangan, ketekunan, serta pentingnya keluarga dalam perjalanan menuju kesuksesan.
Lahir di Klaten pada tahun 1968, Mbah Jo menempuh pendidikan hingga berhasil meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas 17 Agustus Semarang.

Namun, gelar dan pendidikan tinggi tidak membuatnya malu untuk memulai kehidupan dari bawah.
Selepas menyelesaikan pendidikan, sekitar tahun 1995–1999, Mbah Jo bekerja sebagai sopir di tempat saudaranya di Batur, Klaten, sebuah pabrik pengecoran logam. Profesi tersebut dijalani dengan ikhlas, penuh tanggung jawab, dan tanpa pernah merasa rendah terhadap pekerjaan yang dilakukannya.

Bagi Mbah Jo, pekerjaan apa pun yang dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh adalah sebuah kehormatan.
Memulai Perjuangan dari Pasar Johar
Pada Oktober 1999, Mbah Jo mengambil keputusan besar. Ia memilih untuk berdagang dan meneruskan jejak para leluhurnya.

Dengan segala keterbatasan, ia mengawali usahanya dengan berdagang lombok di Pasar Johar Semarang. Perjalanan tersebut tidak ia jalani seorang diri. Saudara, adik, dan kakak kandungnya turut membantu dalam merintis usaha dari awal.

Tidak ada jalan pintas.
Yang ada hanyalah niat, pengorbanan, kerja keras, doa, dan keberanian untuk terus melangkah meskipun keadaan tidak selalu mudah.
Dari situlah perlahan-lahan usaha Mbah Jo berkembang.

Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan kesuksesannya menjadi begitu istimewa.
Bagi Mbah Jo, kesuksesan bukanlah milik dirinya sendiri.
“Suksesku bukan untuk diriku sendiri. Aku akan berusaha bagaimana caranya supaya saudara-saudaraku bisa bersama-sama sukses dan hidup layak, lepas dari kemiskinan yang selama ini kami rasakan.”

Kalimat sederhana itu menggambarkan prinsip hidup yang selalu ia pegang.
Sukses Bersama Keluarga
Jerih payah dan perjuangan selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil.
Dari usaha perdagangan hasil bumi, Mbah Jo berhasil mengembangkan berbagai usaha. Ia membangun ruko, menjalankan usaha jual beli mobil, mengembangkan properti, serta memiliki beberapa rumah kos yang dikelolanya bersama anak,istri dan saudaranya.

Namun, bagi Mbah Jo, keberhasilan terbesar bukanlah tentang seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan.
Keberhasilan yang paling ia syukuri adalah ketika melihat keluarga besarnya mampu hidup lebih layak dan sejahtera.

Ia bahkan berhasil mengangkat derajat keluarga besarnya dengan membuka jalan bagi saudara-saudaranya untuk mengikuti jejaknya sebagai pedagang hasil bumi.

Baginya, keberhasilan akan terasa jauh lebih indah ketika bisa dinikmati bersama.
Doa yang Akhirnya Terjawab
Kini, di usia senjanya, Mbah Jo menoleh ke belakang dan menyadari bahwa semua perjuangan yang pernah dilalui ternyata tidak sia-sia.

Ada masa ketika hidup terasa sulit.
Ada masa ketika harus bekerja keras dari bawah.
Ada masa ketika mimpi terasa begitu jauh.
Namun, semua itu dijalani dengan sabar dan penuh keyakinan.
Hingga akhirnya, doa yang selama ini dipanjatkan perlahan menemukan jawabannya.

“Saya bersyukur kepada Allah SWT, karena doa saya telah dijawab. Di hari tua saya, saya bisa melihat istri, anak, dan keluarga besar saya hidup layak dan bahagia. Bagi saya, keluarga adalah di atas segalanya.”
Itulah hakikat kesuksesan bagi Mbah Joko Lekik.

Bukan sekadar tentang kekayaan.
Bukan sekadar tentang usaha yang berkembang.
Tetapi tentang keluarga yang bisa hidup bersama, saling membantu, saling menguatkan, dan menikmati hasil perjuangan bersama-sama.

“Awaké Déwé Kabeh Sedulur”

Perjalanan hidup Mbah Jo meninggalkan sebuah pesan sederhana namun sangat dalam:
Jangan pernah malu memulai dari bawah.
Sebab kesuksesan bukan ditentukan dari bagaimana seseorang memulai, tetapi bagaimana ia terus berjuang sampai akhirnya mampu mencapai apa yang dicita-citakan.
Dan yang lebih penting, jangan sampai kesuksesan membuat kita lupa kepada orang-orang yang pernah berjalan bersama ketika kita belum memiliki apa-apa.

Mbah Jo memilih untuk menggandeng keluarganya dalam perjalanan tersebut.
Karena baginya, keluarga bukan sekadar hubungan darah. Keluarga adalah tempat untuk berbagi, menguatkan, dan tumbuh bersama.

“Awaké déwé kabeh sedulur, nyawiji siji ing guyub lan rukun, tansah ngajeni lan ngopeni. Gugur gunung kanggo njaga pakarti.”
Karena kita semua adalah saudara. Menyatu dalam kebersamaan dan kerukunan, senantiasa saling menghormati dan saling menjaga. Bersama-sama bergotong royong menjaga kebaikan dan kehormatan.

Kisah Mbah Joko Lekik mengajarkan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan ikhlas, kerja keras yang disertai doa, serta kesuksesan yang dibagikan kepada keluarga akan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar harta: sebuah legacy.

Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Dan kesuksesan yang paling indah adalah ketika kita bisa melihat orang-orang yang kita cintai ikut merasakan kebahagiaan dari perjuangan tersebut.

Reporter: Oki

Editor: Bas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *